Khutbah Idul Fitri 2014 Dr. HC. H. Ary Ginanjar Agustian


Khutbah Idul Fitri 2014 Dr. HC. H. Ary Ginanjar Agustian Arti Kemenangan Sejati

 Khutbah-Idul-Fitri-ary-ginanjar

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu.

Pagi ini (Ary Ginanjar), di tempat yang semoga Allah selalu berkahi, kita berkumpul bersama untuk merundukkan pikiran dan hati kita di hadapan Allah Subhanahu Wataala. Kita kumandangkan Takbir untuk membesarkan nama Allah. Di hadapan alam semesta saja kita sungguh kecil apalagi di hadapan Dia Sang Penciptanya. Merenungkan kebesaran-Nya akan membuat semua problema hidup yang kita rasakan beban besar, sungguhnya kecil dan tak berarti.

Ketika bibir kita mengucap takbir Allahu Akbar, maka kita sesungguhnya berikrar bahwa tak ada lagi yang lebih penting dan mulia kecuali Dia, Allah Al Kabir. Tak ada lagi kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Hanya Allah saja yang menjadi kepentingan kita.

Saat matahari terbit pagi ini, kita pun mengumandangkan Tahlil, meng-Esa-kan Dia Sang penggenggam jiwa; meniadakan apapun di kepala dan hati kita kecuali mengakui eksistensi-Nya. Kita pun bertahmid, memuji Allah dengan segala kebesaran dan kekuasaan-Nya. Sungguh di hadapan Dia semua menjadi hina dan tak bermakna.

Oleh karenanya mari kita ulang-ulang gema takbir, tahlil, dan tahmid kita, menyatu dengan takbirnya tetumbuhan, satwa, dan seluruh planet dan gugusan bintang. Kita hujamkan takbir kita hingga merasuk ke jantung kita beredar ke setiap sel di tubuh kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu.

Saudara-saudaraku kaum Muslimin. Kita baru saja melewati bulan Ramdhan, bulan penuh keberkahan dan pengampunan. Kita ditempa dengan berpuasa menahan godaan nafsu fisik, emosi, juga spiritual. Selama 10 hari terakhir kita menjalankan itikaf yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar atau dikenal dengan ‘malam seribu bulan’. Pada malam-malam ini banyak rahmat dan berkah luar biasa yang diturunkan Allah bagi umat manusia dan alam semesta raya.

Bersamaan pada bulan Ramadhan tahun ini, bangsa ini melewati saat penting yaitu pergantian kepemimpinan. Bagi yang menang atau kalah sesungguhnya ujian di hadapan Allah. Yang menang akan diadili oleh Allah di Padang Mahsyar dihadapan Allah Hakim Yang Maha Agung. Bagaimana pertanggungjawaban atas kepemimpinannya terhadap 250 juta lebih penduduk Indonesia. Sedangkan yang kalah akan dinilai sejauh mana ia sabar dan ikhlas atas takdir-Nya yang sesungguhnya yang terbaik untuk dirinya di hadapan Allah Maha Tahu dan Paling Tahu.

Sebagai sebuah ibrah pembelajaran mari kita tengok sejarah Fathul Mekkah atau Kemenangan Mekkah yang terjadi juga di bulan Ramadhan.

Pada hari itu kota Mekkah diliputi suasana ketakutan yang mencekam. Para penduduk dengan hati yang berdebar-debar dan jantung berdegup berusaha menghindari suratan takdir yang tak lama lagi akan menimpa diri mereka dan keluarga, serta kerabatnya. Para lelaki sang pemimpin keluarga banyak yang menutup rapat-rapat pintu rumahnya lalu bersembunyi di belakangnya. Sebagian mereka dengan terpaksa memasuki Masjidil Haram dengan wajah muram dan enggan menunggu detik-detik berlalu.

Pasukan kaum Muslimin dengan derap langkah tegap dan pasti terus mendekati Mekkah yang sebentar lagi akan memenuhi kota. Serombongan pasukan yang menggentarkan warga Mekkah.

Sang pemimpin pasukan, Rasulullah SAW duduk di atas untanya. Dengan mengenakan serban hijau tua tampak berwibawa. Namun sikap yang ditunjukkan bukan kebanggaan atau kesombongan karena kemenangan, namun justru menundukkan kepala dengan sikap penuh ketawadhuan dan kekhusyukan. Badan tegapnya justru membungkuk tampak sangat merendahkan diri, sampai-sampai janggutnya hampir menyentuh punggung untanya. Sebuah pemandangan yang kontras.

Rombongan pasukan tersebut terus bergerak menuju inti kota suci Mekkah. Andaikan sang Pemimpin berkharisma itu tiba-tiba memberi aba-aba untuk melakukan penyerbuan. Maka tidak akan membutuhkan waktu lama pasukannya yang gagah dan taat itu akan mampu menyapu apa pun yang ada di Mekkah.

Hari kemenangan itu telah tiba. Beliau mendatangi kota suci Mekkah sebagai pemenang dan pemimpin bukan lagi musuh atau buronan. Kegemilangan dan kemuliaan yang dijanjikan Allah SWT ini membuat alih-alih membuat beliau jumawa dan bangga, namun semakin merunduk penuh kesyukuran. Posisi duduknya di atas punggung unta tetap membungkuk dan merunduk.
Lalu dari atas punggung untanya tersebut, beliau bersabda:

“Hari ini hari Ka’bah harus dihormati, hari ini orang-orang Quraisy dimuliakan Allah!” Meski kaum Quraisy ini pernah menyakiti, Rasulullah SAW beliau kepada pasukannya memerintahkan jangan menyerang kecuali diserang lebih dulu. Setelah itu masuklah semua pasukan dari semua penjuru mengepung kota Mekkah.

Para pemimpin, pasukan, dan seluruh penduduk Mekkah pun menyerah tanpa perlawanan. Agama Islam yang diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad pun diterima seluruh pelosok kota dan mereka memasukinya dengan berbondong-bondong.

Rasulullah SAW melangkah menuju Baitullah untuk melakukan shalat 4 rakaat, lalu thawaf. Kemudian menghancurkan berhala-berhala dan patung-patung yang terdapat di sekitar Ka’bah.

“…Kebenaran tiba dan lenyaplah kebatilan! Sesungguhnyalah, bahwa kebatilan pasti lenyap.” (QS Al Isra : 81)

Rasulullah memimpin pasukannya yang berjumlah besar mengucapkan pujian kepada Allah SWT: “Tiada Tuhan selain Allah, yang telah memenuhi janji-Nya, dan telah menolong hamba-Nya dan telah pula mengalahkan pasukan Ahzab! Hai orang-orang Quraisy, menurut pendapat kalian, tindakan apa yang hendak kuambil terhadap kalian?” Mereka menyahut serentak: “Tentu yang baik-baik!” Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia. Kukatakan kepada kalian apa yang dahulu pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya; “Tak ada hukuman apa pun terhadap kalian. Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas!”

Rasulullah lalu menyambung titahnya, “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman’.”

Penduduk Quraisy seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka merasa bersyukur dan kembali ke rumahnya dalam keadaan tenang. Seorang sahabat, Bilal, naik ke atas Ka’bah mengumandangkan adzan. Rangkaian kalimat agung dan berisikan kemenangan membahana ke kubah langit kota Mekkah merasuki ruang hati orang-orang yang beriman, “Allahu Akbar…Allahu Akbar…!”

Seluruh penduduk Mekkah di hari penaklukan itu memeluk Islam. Sebagian memasukinya dengan sukacita, namun ada sebagian dari mereka yang masih ragu. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi di bulan Ramadhan. Fathul Mekkah atau penaklukan kota Mekkah adalah kemenangan gemilang dan besar untuk kaum Muslimin.

Seorang kafir Quraisy bernama Hindun, sewaktu masih belum menjadi seorang muslimah sangat sering memperolok-olokkan dakwah Nabi Besar Muhammad SAW dan malah melecehkan dengan kata-kata kasar. Pada suatu kesempatan Hindun berdiri di depan Ka’bah lalu mengucapkan sumpah bahwa ia tidak akan masuk agama Islam.

Namun beberapa lama kemudian, Hindun menemui Nabi Muhammad SAW seraya mengucapkan dua kalimah syahadah, menyatakan dirinya kepada Rasulullah bahwa telah masuk Islam, tanpa bujukan dan paksaan dari siapapun.

Sesudah Hindun masuk Islam, ia berjumpa dengan Abu Sofyan dan bertanya,
“Hindun, bukankah engkau dulu pernah bersumpah, andaikata semua onta di tanah Arab ini masuk Islam, engkau tidak mau memeluk agama Islam?”

Hindun menjawab: “Benar, dulu aku pernah bersumpah bahwa aku tidak mau masuk Islam, tapi sekarang bukan aku yang masuk Islam, tapi Islam itu masuk ke dalam hatiku.”

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar 3x Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Demikianlah teladan Rasulullah saat menghadapi sebuah kemenangan. Al Quran dalam surat An – Nashr juga menceritakan tentang kesuksesan dan kemenangan. An Nashr adalah ayat Al Quran yang terakhir turun dalam bentuk surat. Surat ini bercerita tentang kesuksesan dan kemenangan. Menurut sebagian besar ulama, surat ini turun dua tahun setelah Fathul (kemenangan) Mekkah. Isi surat ini adalah berita gembira tentang kemenangan agama Islam di tempat dimana berhala paling banyak disembah sebelumnya.

Dalam surat ini juga dideskripsikan bahwa berbondong-bondongnya orang masuk Islam setelah dua dekade lamanya Rasulullah SAW dan para shahabat berjuang menyebarkan kebenaran. Inilah kesuksesan yang hakiki, dan pemenangnya adalah pemenang sejati. Di dalam surat ini dijelaskan apa sebenarnya arti kemenangan atau kesuksesan itu, bagaimana cara meraihnya, dan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh sang pemenang setelah kemenangan itu datang.

1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

Dalam ayat ini kata nashrullaah yang berarti pertolongan Allah didahulukan, baru kemudian kata fath/kemenangan. Ini menunjukkan bahwa setelah Allah memberi pertolongan baru kemenangan itu datang! Keyakinan bahwa kemenangan itu disebabkan karena datangnya pertolongan Allah inilah yang membuat Rasulullah SAW tetap tawadhu/rendah hati saat memasuki kota Mekkah pada peristiwa Fathul Mekkah. Beliau menunggangi untanya dengan menunduk sampai sampai tiba di Ka’bah. Beliau dikerumuni penduduk Mekkah lalu dielu-elukan. Namun beliau tetap tawadhu. Semua musuh-musuh yang dulu menghina dan bahkan menganiayanya dimaafkan dan dibebaskan.

2. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

Ayat kedua ini menjelaskan tentang hakikat kemenangan. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan iman, yang merupakan buah dari perjuangan dan pertolongan Allah. Arti kemenangannya bukanlah kekuasaan, tapi Allah mendeskripsikannya dengan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara berbondong-bondong.

3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Ayat terakhir adalah pesan Allah kepada seorang pemenang. Cara merayakan kemenangan sang pemenang sejati bukanlah larut dalam euphoria dan pesta pora, tetapi mempersiapkan kematian. Setelah Fathul Mekkah, Rasulullah disibukkan dengan banyaknya kabilah yang menemui beliau untuk masuk Islam. Namun Allah menyuruh Rasul-Nya agar menyibukkan diri dengan empat hal ini sebagai persiapan kematian, agar tetap menang sampai kita dipanggil Allah.

“FASABBIH”

Banyaklah bertasbih yaitu mensucikan Allah. Subhanallah, inilah hal pertama dan utama yang harus dilakukan setelah kita mengalami kemenangan: mensucikan Allah. Apa yang menjadi alasannya? Pada saat perjuangan dan kerja keras dalam meraih kemenangan, tidak mustahil diri kita terkotori perasaan dan pikiran negatif. Salah satunya adalah kekhawatidan bahwa Allah tidak akan memberi pertolongan.

“BIHAMDI ROBBIKA”

Pujilah Tuhanmu! Alhamdulillahi robbil alamin. Sikap pemenang selanjutnya adalah memuji dan menyanjung Allah. Seorang pemenang bukanlah yang memuji diri atau berbangga diri atas kemenangan yang diperoleh. Sesungguhnya hanya Allah yang patut dipuji karena pertolongan hakiki adalah datang dari Allah. Alhamdulillah… Hanya pujian yang pantas bagi Allah di setiap keadaan.

“wa(-i-)STAGHFIR”

Selanjutnya adalan perintah memohon ampunan. Astaghfirullah. Inilah amalan terbaik yang bisa dilakukan orang di penghujung masa hidupnya. Inilah amalan terbaik setelah seseorang melakukan kebaikan. Ternyata istighfar itu bukan hanya untuk orang yang berbuat dosa. Istighfar diperintahkan setelah kita selesai sholat, selesai haji, dll. Istighfar adalah amalan setelah melakukannya amalan baik. Istighfar itu membuat manusia mengakui bahwa apa yang kita lakukan ini bukan akhir dari kebaikan. “Aku yakin ini belum sempurna dan aku ingin istighfar agar aku bisa melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi.”

“innahuu kaana TAWWABAA”

Terakhir adalah bertaubat, memohon ampunan. Pemenang sejati adalah seorang yang tidak mau mengulangi kesalahannya.

Perumpamaan saat orang bertaubat, digambarkan oleh Rasulullah: ‘Allah menerima taubat orang yang bertaubat itu seperti senangnya seorang ibu yang kehilangan anak yang disusuinya, lalu ia mencari bayinya, lalu menemukan kembali bayinya.’

Keempat hal inilah sikap-sikap pemenang yang Allah ajarkan. Semoga kita mampu meneladaninya

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar 3x
Allahu Akbar Walillahi al-hamd

Setelah pemimpin bangsa ini terpilih, perjuangan baru terbentang. Bagaimana mewujudkan misi bangsa Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, mensejahterakan rakyat, dan mencerdaskan warga negaranya, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Itulah yang dimaksud menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam.

Oleh karena itu bangsa Indonesia yang didirikan para founding father sesungguhnya sejalan dengan misi kita sebagai kaum muslimin. Karena sesungguhnya Bangsa Indonesia berdasarkan pada Tauhid yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saudara-saudara kaum muslimin mari kita merapatkan barisan membangun bangsa ini, karena sungguh masih banyak pekerjaan yang harus kita garap untuk memperbaiki negara yang kita cintai ini. Kita masih berkutat dengan sejumlah persoalan moral dan karakter. Maka persoalan moral bangsa ini tiada lain solusinya adalah mengembalikan pada tuntunan-Nya. Bukan dengan cara pendidikan karakter ala barat. Pendidikan karakter Islam adalah akhlakul karimah akhlak yang baik sebagaimana diajarkan Al Quran dan sejalan tuntunan dan teladan Nabi Muhammad Rasulullah Salalahu alaihi wasalam.

Demikian Khutbah Idul Fitri Ary Ginanjar

 

Daftar Training ESQ

Aditya Nur Baskoro

087-888-765-439

28BCB8F0

Jadwal Training ESQ

Buku ESQ

DVD ESQ

Ahli SEO

 

Download  Khutbah Idul Fitri Ary Ginanjar ESQ

One thought on “Khutbah Idul Fitri 2014 Dr. HC. H. Ary Ginanjar Agustian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s