Training ESQ Peduli Lapas: Oase Spiritual untuk Warga Binaan


Training ESQ Peduli Lapas: Oase Spiritual untuk Warga Binaan

27 April 2009

Kehadiran ESQ di Lapas Bekasi, bagaikan oase di tengah padang pasir, yang menghilangkan dahaga spiritual para penghuninya.

Training ESQ di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A Bekasi, memberi kesan mendalam bagi para pega­wai dan warga binaannya. “ESQ me­ru­pakan pembinaan untuk ki­ta agar dapat lebih mengenal jati diri kita yang sesungguhnya,” ujar PLT Kalapas Kelas 2A Beka­si, Drs. Utuy, SA, BCIP, SH. Me­nu­rut dia, hakikat pembinaan ke­pa­da warga binaan tidak ha­nya berfokus pada penjatuhan hu­kuman, sebagai balasan atas pelanggaran yang dilakukan. “Me­lain­kan, sebuah proses pembi­naan agar pelanggar hukum da­pat menyadari kesalahannya,” ka­tanya. “Sehingga, kemudian ia dapat membekali dirinya untuk kembali ke masyarakat dan tidak lagi mengulangi kesalahannya di kemudian hari.”

Training ESQ Peduli Warga Binaan di Lapas Kelas 2 A itu ber­langsung dua angkatan secara berturut-turut, di Aula Lapas Be­kasi, 20-23 April, dipandu oleh Yendra R. Pamungkas, Hasan Basri, Ahmad Supriyadi, dan Kun­coro Jati. Pelatihan itu diikuti oleh sekitar 350 orang yang terdiri dari pegawai Lapas Kelas 2A Bekasi, para warga binaan yang dipilih se­perti tahanan pendamping, ke­pala kamar, dan juga mereka yang akan segera bebas dari masa hukuman, serta undangan dari Lapas Karawang, Subang dan Purwakarta.

Utuy mengatakan, para peng­huni lapas saat ini tidak lagi dari kalangan menengah ke bawah. Saat itu, tahun 80-an dan 90-an, kasus pelanggaran hukum banyak berkaitan dengan permasalahan eko­nomi. Namun, tren tindak pida­na kini lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pen­didikan dan ekonomi yang tinggi, seperti penyalahgunaan nar­koba, pemalsuan dan penipuan, pembajakan hak cipta, korupsi, dll. Untuk itulah, Lembaga Pema­sya­rakatan Kelas 2A Bekasi be­ker­jasama dengan Bidang So­sial Kemasyarakatan Forum Komu­nikasi Alumni (FKA) ESQ, FKA ESQ Kordinator Daerah Bekasi, menyelenggarakan Training ESQ, sebagai salah satu upaya pem­bi­naan terhadap para narapidana.

Menurut Utuy, pembinaan yang semestinya dilakukan oleh pihak Lapas kepada para warga binaan, merupakan aktivitas pe­ning­atkan segala sesuatu. Itu me­­liputi: Kualitas ketakwaan ke­­pa­­da Tuhan YME, kualitas inte­­lektual, kualitas sikap dan pe­ri­laku, kualitas profesional dan ke­trampilan serta kualitas ke­se­hatan jasmani dan ruhani. Itu sesuai dengan yang tertera dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 31 tahun 1999, tentang pem­bi­naan dan pembimbingan war­ga binaan pemasyarakatan. Ren­dahnya kua­li­tas-kualitas itulah yang me­nyebabkan seseorang melang­gar hukum. “Dan saya yakin, pem­binaan terhadap peningkatan kua­litas itulah yang tercakup dalam pelatihan ESQ,” ujar Utuy.

Kegiatan tersebut disambut baik oleh pihak Departemen Hu­kum dan HAM. Itu diungkapkan oleh istri Sekjen Depkumham, Sutiana Bari Azed dalam sam­but­annya saat membuka dan me­nutup kegiatan tersebut. Sutia­na berharap, nilai-nilai yang di­sam­paikan melalui Training ESQ dapat menjadi modal dasar bagi para warga binaan untuk menjalani kehidupan selanjutnya, “Sehingga, ketika kembali ke ke­luarga dan masyarakat, mereka telah menjadi manusia yang tang­guh, berkepribadian mandiri, cer­das emosional dan spiritual.”

Asisten Daerah I Wakil Wali­kota Bekasi, Zaki Utomo membuka pelatihan itu. Menurut Zaki, ke­giatan ESQ sangatlah bermakna dan memiliki peran yang sangat penting bagi warga di lingkungan Lapas Bekasi, sebagai salah satu upaya peningkatan mutu dan kualitas ruhani. Mewakili pe­merintahan kota Bekasi, Zaki berjanji akan mendukung kegiatan-kegiatan ESQ di Bekasi, terutama dari segi fasilitas. “Karena sudah menjadi tugas utama pemerintah, untuk mendukung peningkatan kualitas masyarakat dan menyejahterakannya,” kata Zaki.

Hadir pula pada kegiatan itu, orangtua pimpinan ESQ Ary Ginanjar Agustian, Oma Ana Ro­chim dan Opa Abdul Rochim Agustjik, Ketua Bidang Sosial Ke­masyarakatan FKA ESQ Lea Irawan, Kordinator Daerah FKA ESQ Bekasi Yetty Yuherman, Ka­lapas Paledang Bogor Ibnu Chul­dun, Kalapas Cipinang Haviluddin, dan Wakil DPRD Kota Bekasi Akhmad Syaikhu.

Kehadiran ESQ di Lapas Beka­si, bagaikan oase di tengah padang pasir, yang menghilangkan dahaga spiritual para penghuninya. Selama empat hari, aula Lapas Bekasi itu dipenuhi isak-tangis peserta yang mulai menemukan jati diri. Doa-doa yang terucap mengisyaratkan penyesalan akan kesalahan dan tekad untuk memperbaikinya.

Pemimpin ESQ Leadership Cen­ter Ary Ginanjar menyambut gembira kehadiran ESQ di Lapas Bekasi. “Semoga training ini dapat membantu para warga binaan untuk dapat kembali kepada fitrah­nya,” kata Ary.

Mengingat masih banyaknya penghuni Lapas yang belum men­dapatkan kesempatan mengikuti pelatihan ESQ, pihak Lapas dan FKA ESQ Korda Bekasi berencana untuk menyelenggarakan pelatih­an ESQ dan beberapa program pem­binaan pascatraining bagi war­ga binaan. RAHMA HAYATI, KARYATI NIKEN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s