SUDAHLAH, MAAFKAN SAJA!


SUDAHLAH, MAAFKAN SAJA!

Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ”Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!”

Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.

Anehnya, kita sering — bahkan dengan sengaja — memasukkan ”makanan-makanan beracun” ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!

Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.

Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka doakanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang saleh. Mampukah kita melakukannya?

Para nabi-nabi adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicacimaki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan.

Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.

Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ”simpanan.” Wanita ini kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.

Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, ”Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?” Jawabnya, ”Ya, sudah.” Si kawan kemudian berkata, ”Saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.” Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ”Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.”

kita harus terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan.

Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kita terhadap Yang Maha Kuasa. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.

Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.

Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.

Jika kita menjadi lebih baik, Tuhan tentu akan memuliakan kita. Jika Tuhan sudah memuliakan, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ”Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.” Itulah kunci kemuliaan diri.

(Avan P – AA Gym)

sumber: Motivasi Net

Untuk Sahabat-sahabat ku tercinta,

Semoga Bermanfaat,

(‘kang dadang’)

23 thoughts on “SUDAHLAH, MAAFKAN SAJA!

  1. Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit “wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (Perang) (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

  2. Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’

  3. Abu Hurairah ra berkata,
    “ Apakah ada diantara kamu yang mampu berdiri dalam shalat tanpa berhenti dan terus melakukannya sepanjang hidupnya?” Orang-orang berkata, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang mampu melakukannya?” Beliau berkata “Demi Allah! Satu harinya seorang mujahid di jalan Allah adalah lebih baik daripada itu.”

  4. Dari Rasyid, dari Sa’ad r.a., dari seorang sahabat, seorang laki-laki bertanya, “ Ya Rasulallah! Kenapa semua orang-orang yang beriman mendapatkan siksa kubur kecuali orang-orang yang syahid?” Beliau saw. menjawab: “Pertarungan dari pedang di atas kepalanya telah cukup sebagai siksaan (ujian) atasnya.” (Shahih Jami’)

  5. Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (at-Taubah: 19)

  6. Seharusnya kita belajar dari Rasulullah Saw saat memperjuangkan Islam. Rasulullah Saw tidak pernah berkompromi dalam masalah aqidah dan syariah. Rasulullah Saw tidak pernah menutupi perjuangan Islamnya dengan alasan substansi. Rosulullah Saw menyampaikain ayat-ayat Al Qur’an apa adanya, tidak menutup-nutupinya. Apapun resikonya. Saat turun surat al-Ikhlas yang menyerukan keesaan Allah SWT, Rasulullah Saw tidak menyembunyikan ayat ini. Rasulullah Saw menyampaikan apa adanya, meskipun masyarakat kafir Quraisy menolak. Rasulullah Saw tetap menyampaik surat al-Lahab yang secara langsung mencela pemimpin politik kafir Qura’isy saat itu, Abu Lahab. Meskipun kemudian Rasulullah Saw dan pengikutnya harus mendapat siksaan dari pemimpin-pemimpin kafir saat itu.

    Rasulullah saw juga tidak pernah berkompromi dengan sistem kufur yang ada. Meskipun Rasulullah Saw ditawari kekuasaan, harta, dan wanita. Sikap Rasulullah Saw jelas dan tegas, aqidah Islam tidak boleh dikompromikan. Antara yang hak dan batil tidak boleh dicampur adukkan. Sikap teguh Rasulullah Saw tampak jelas dalam perkataannya: Demi Allah, seandainya mereka sanggup meletakkan matahari di sebelah (tangan) kananku dan bulan di sebelah (tangan) kiriku agar aku mau meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan dakwah ini atau aku hancur karenanya.

  7. “Barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak berperang, dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati diatas satu cabang kemunafikan.”

  8. “Aku diutus mendekati hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah disembah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan hina dan kerdil atas orang yang menyelisihi peritahku, dan barangsiapa yang menyerupai dengan suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (H.S.R. Imam Ahmad)

  9. Dalam sebuah hadits yang agak panjang yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, bahwa Abu Jahal mengatakan kepada kepada orang-orang Quraisy yang isinya makar dan menyudutkan Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam dan para pengikutnya, maka begitu berita itu sampai kepada beliau, beliau bersabda :

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، َلأَقْتُلَنَّهُمْ وَ َلأُصَلِّبَنَّهُمْ وَ َلأَهْدِيَنَّهُمْ وَهُمْ كَارِهُونَ، إِنِّي رَحْمَةٌ بَعَثَنيَِ اللهُ وَ لاَ يَتَوَفَّانِي حَتىَّ يُظْهِرَ اللهُ دِينَهُ

    Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh benar-benar aku akan membunuh mereka dan menyalib mereka, serta menunjukkan mereka, sedang mereka tidak menyukainya. Sesungguhnya aku diutus Allah menjadi rahmat dan Allah tidak akan mewafatkanku. Sehingga Allah memenangkan dien (agama)-Nya” (H.R Ath-Thabrani)

  10. Dari Abu Hurairah rhodiyalloohu anhum dari Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda, “Barangsiapa yang mati dan belum pernah berperang, dan tidak terdetik dalam dirinya dengannya (untuk berperang), ua mati diatas cabang dari kemunafikan.” (H.S.R. Imam Muslim dalam kitab “Imarah (Kepemimpinan)” Bab Celaan Terhadap Orang yang Belum Berperang).

  11. Dari Abu Hurairah rhodiyalloohu anhum dari Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda, “Barangsiapa yang mati dan belum pernah berperang, dan tidak terdetik dalam dirinya dengannya (untuk berperang), ia mati diatas cabang dari kemunafikan.” (H.S.R. Imam Muslim dalam kitab “Imarah (Kepemimpinan)” Bab Celaan Terhadap Orang yang Belum Berperang).

  12. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, (at-Taubah:123)

  13. “Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

  14. “Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun”(At Taubah : 39).

  15. Sesungguhnya kehinaan yang menimpa kita ( umat Islam ) ini, adalah tidak lain, karena kita meninggalkan jihad fiesabilillah, d an cinta dunia !!

  16. Rasulullah SAW bersabda :
    ” Demi Allah, aku akan berperang seorang diri sampai leher ini terpisah dari badanku “
    ( HR Bukhari ).

  17. Abu Bakar As Shidiq ra berkata :
    ” Seandainya tangan kanaku menyelisihiku, maka aku akan berperang ( melawan murtadin ) dengan tangan kiriku ” (tafsir Ibnu ‘Athiayah 5/153 )

    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda ;
    ” ……………. Jika kalian berjual beli dengan ‘inah ( sejenis riba ), dan kalian mengambil ekor – ekor sapi dan cenderung ridha dengan bercocok tanam ( cinta dunia ), dan meninggalkan jihad, maka Allah akan meliputkankamu dengan kehinaan, Dia tidak akan melepaskan kehinaan itu ( dari kamu ) sampai kamu kembali kepada dien (agama ) kamu “.
    ( Riwayat Abu Daid, dengan sanad hasan baik)

    Hadist di atas pula menjadi pelajaran bagi kita bahwa perbuatan meninggalkan jihad adalah sama saja dengan meninggalkan dien ( agama ). Karena itu Rasulallah SAW katakan ; SAMPAI KALIAN KEMBALI KEPADA DIEN ( AGAMA ) KALIAN.

  18. “Apakah kalian kira akan masuk surga? Sementara Allah belum mengetahui siapa saja yang berjihad diantara kalian dan Allah belum ketahui siapa saja yang bersabar” (Ali ‘Imron 3:142)

  19. Percakapan antara moderat dan Muwahid

    Moderat

    Apakah Anda mengetahui tentang jihad fi sabilillah ?

    Muwahid

    Kami tidak akan menjawabnya secara ratio, kami menjawabnya sebagaimana Rasulullah saw. menjawab pada saat para Shahabat bertanya kepadanya,

    “Apa hijrah yang terbaik? Beliau saw. menjawab,”Al Jihad Fii sabilillah”, mereka bertanya,”Apa jihad itu yaa Rasulullah?”Beliau saw. menjawab,”memerangi Kuffar jika kamu datang kepada mereka (berperang).” Mereka bertanya,”Apa jihad yang terbaik?” Beliau saw. menjawab “Seseorang yang kudanya terjatuh dan darahnya mengalir.” (Musnad Imam Ahmad)

    Dan dalam riwayat yang lain, Shahabah bertanya,

    “Manakah (kondisi) terbunuh yang sebaik-baiknya ?” Rasulullah Saw. menjawab,”Seseorang yang darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.” (Abu Daud)

    Maka tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan bahwa sebaik-baik jihad adalah menuntu ilmu dan sebagainya, tetapi sebaik-baik jihad adalah terbunuh. Juga dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda,

    “Pergilah dan kembalilah ke medan pertempuran karena Allah, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya dan sebaik-baik Ghazwa adalah pada saat darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.”

    Moderat:

    Tetapi waktu kita saat ini tidak sama dengan masa lalu, dimana ada Khilafah dan sebagainya, pada saat ini tidak ada jihad dengan pedang, tetapi pada saat ini jihad dengan pena, satelit dan sebagainya, dari ekonomi, voting dan sebagainya… kita harus membangun infrastruktur dari Ummat sebelum kita berperang.

    Muwahid

    Alasan mengapa kita harus berperang sekarang adalah karena Allah swt. memerintahkan kita,

    “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

    Allah menjelaskan bahwa kita hanya harus berusaha dan Allah selanjutnya akan mementukan hasilnya. Menghentikan jihad dan mencegah mujahidin atau mengecilkan hati orang-orang dari berperang adalah sebuah karakter dari Munafiqun. Allah swt. berfirman,

    “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka….” (QS Muhammad 47: 4)

    Allah tidak mengatakan, pada saat kamu bertemu musuh,”tuntutlah ilmu” atau “bangunlah infrastruktur”, tetapi Dia swt. memerintahkan kita untuk memerangi mereka.

    Lebih lanjut, Allah memerintahkan kita untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran. Salah satu dari menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah menyeru orang untuk shalat, puasa, membantu orang yang membutuhkan dan sebagainnya, dan di antaranya yang telah disepakati Ulama adalah,

    “Tidak ada yang bisa menyamai jihad fii sabilillah (pada saat itu menjadi fardhu ‘ain)”

    Pada saat jihad menjadi fardhu ‘ain, itu bahkan di atas shalat, zakat, haji dan semua ibadah lainnya, pada saat kita berperang dalam jihad defensif, jihad kita adalah shalat kita, kita tidak bisa menghentikan jihad bahkan untuk shalat, jadi bagaimana bisa menghentikan jihad dengan tujuan untuk menuntut ilmu?

    Moderat

    Kita tidak bisa berjihad; jika mempunyai hutang, bayarlah hutang terlebih dahulu.

    Muwahid

    Dalam jihad defensif kita tidak perlu membayar hutang terlebih dahulu, Imam Ibnu Qudama Al Maqdisi dalam Al Mughni jilid 9 berkata,

    “Jika jihad menjadi Fardhu ‘ain, dia tidak perlu meminta izin dari seseorang yang memberikannya pijaman, itu teks dari Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas,”Jika jihad menjadi fardhu, dia tidak perlu meminta izin dari orang yang meminjamkannya.”

    Moderat

    Laksanakan Shalat dulu.

    Muwahid

    Shalat adalah kewajiban dan meninggalkannya adalah kufur, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu menjadi lebih penting daripada shalat, Imam empat mahzab menyetujui bahwa shalat adalah Fardhu, puasa adalah fardhu, zakat adalah fardhu, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu lebih utama dari semua ibadah yang lain tetapi dia seharusnya melakukan sebisa mungkin jika dia bisa melakukannya, Imam Ahmad bahkan berkata,

    “Jika musuh datang, kemudian sepanjang dia berperang, dia tidak bertanggungjawab atas semua kewajibannya yang lain sampai musuh berhenti.”

    Imam Qurtubi berkata,

    “Adalah sebuah kewajiban atas Imam untuk tetap menaklukan musuh setiap tahun…”

    Ibnu Katsir berkata,

    “Kita harus memerangi kuffar yang paling dekat sampai kita berjalan untuk mendatangi mereka.”

    Allah swt. berfirman,

    “Wahai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir yang paling dekat denganmu.”

    Ini mempunyai implikasi, jika musuh memasuki negeri kita, mereka sangat dekat dengan kita kemudian kita harus memerangi mereka, jika mereka tidak masuk ke negeri muslim tetapi pemerintah mendeklarasikan Kufur Bawah (kekufuran yang nyata), mereka adalah musuh yang paling dekat dengan kita. Kemudian, jika ada Khilafah, musuh yang paling dekat adalah Kuffar yang berada di luar batas negara yang tidak mempunyai perjanjian dengan kita.

    Moderat

    Mengapa kita berperang?

    Muwahid

    Karena kita bukan Munafiqun dan seseorang yang tidak berparang adalah Munafiq, Nabi Muhammad saw. bersabda,

    “Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak berperang dan tidak juga mempunyai niat untuk berperang di jalan Allah dia mati dalam sebuah cabang Nifaq.”

    Dan jika kita tidak mengatakan demikian, Allah swt., berfirman,

    “Jika kamu tidak berperang Allah akan mengazabmu dengan amat pedih.”

    Rasulullah saw. bersabda,

    “Seseorang yang tidak berperang tidak juga menyiapkan orang-orang yang berperang, tidak juga memperhatikan keluarga orang-orang yang berperang, Allah akan mengirimkan kepadanya sebuah azab sampai hari pengadilan.”

    Moderat

    Setalah jihad, apakah yang kamu lakukan sebagai pengganti? Kita membutuhkan enginer (insinyur), dokter dan sebagainya.

    Muwahid

    Kita tidak mengatakan janganlah pergi berjihad karena kamu tidak mempunyai sebuah jawaban, kita membutuhkan enginer untuk membangun gedung, tapi, itu menjadi tidak penting jika kuffar masih membunuh Muslim, Allah swt. berfirman,

    “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

    Allah tidak pernah memerintahkkan kita untuk menggetarkan Kuffar dengan gelar, derajat dan pendidikan, Allah swt. berfirman,

    “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS Al Anfal, 8: 60)

    Muwahid = Orang yg bertauhid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s