TRAINING ESQ LANJUTAN MCB IV (850 Peserta )


Menara 165 untuk Pekerjaan Besar

mcb-4

Suasana pelatihan ESQ lanjutan Mission Statement & Character Building (MCB) Angkatan ke-4 di Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan, 29-30 November

Dua pelatihan istimewa ESQ berlangsung bersamaan di Gedung Menara 165 di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, pada Sabtu dan Minggu lalu. Yang satu, pelatihan lanjutan Mission Statement & Character Building (MCB) Angkatan IV, dan satunya pelatihan dasar Indonesia Emas (IE) Angkatan VI. Pelatihan MCB istimewa karena diikuti 850 peserta. Sedangkan IE, meski jumlah pesertanya 40 orang, mereka adalah para pejabat Eselon I dari berbagai instansi pemerintah, yang dikoordinasi Kantor Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan).

Pelatihan MCB yang dipandu Ary Ginanjar Agustian dan Legisan Sugimin itu berlangsung di Grand Ball Room Menara 165. Hadir pada upacara pembukaan antara lain pakar hukum Prof. Dr. Priyatna Abdurrasyid dan mantan Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Kepolisian RI Brigjen (Pol.) Kunarto, dua tokoh penting yang telah bertekad membantu perjuangan ESQ.

Kepala Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri Irjen Dwi Purwanto secara khusus hadir untuk mengantarkan 30 personelnya menjadi peserta pelatihan. Selain dari Sespim Polri, pelatihan MCB ini juga diikuti 120 peserta yang dikirim Kantor Menpan. Dan, yang membuat Ary Ginanjar amat terharu adalah keikutsertaan Ny. Mien Dahlan Ranuwihardjo dalam pelatihan.

Saat pembukaan, Ary menyerahkan hadiah berupa boneka Mr. Zero kepada istri almarhum Prof. Dr. Dahlan Ranuwihardjo itu. Dahlan Ranuwihardjo adalah salah satu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang pada 9 November lalu dikukuhkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pahlawan nasional.

Dalam sambutannya, Ary mengajak hadirin untuk terus fokus pada cita-cita Indonesia Emas 2020. Gambarannya sangat sederhana, kata Ary, masyarakat Indonesia 2020 adalah yang menjunjung Tujuh Budi Utama (Jujur, Tanggungjawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil dan Peduli).

“Saat itu kita semua adalah masyarakat yang saling mengasihi dan selalu bersyukur kepada Allah,” kata Ary. Menurut dia, saat itu tidak ada lagi orang berebut jabatan. Tidak ada lagi orang yang mengutamakan materalisme. ”Apa pun sukunya, apa pun latar belakangnya, semua iklhas bekerjasama demi kemakmuran bangsa.”

Secara terpisah, di Ruang Andalusia, pada hari yang sama, 40 pejabat Eselon I dari berbagai instansi pemerintah, mengikuti pelatihan dasar ESQ Indonesia Emas Angkatan VI, yang dipandu Rinaldi Agusyana. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi hadir untuk menyampaikan pesan-pesan kepada para peserta.

Mengawali amanatnya, Taufik menyeritakan percakapannya dengan salah seorang cucunya. Sang cucu bertanya, mengapa bangsa Indonesia tidak punya Mahatma Gandhi, Thomas Jefferson, atau tokoh-tokoh lain yang menjadi panutan bangsanya sepanjang masa? Pertanyaan itu membuat Taufik terhenyak.

Sesungguhnya, menurut dia, bangsa Indonesia pun memiliki tokoh-tokoh panutan besar, namun bangsa ini punya tabiat memuja-muja dan kemudian menghancurkan sendiri para tokohnya. Taufik menyontohkan nasib yang dialami Soekarno dan Soeharto. Dia khawatir itu terjadi pula pada Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Taufik, itu adalah isyarat bahwa ada yang harus dibenahi pada mental bangsa ini, dan untuk itu dibutuhkan suatu konsep yang jelas (crystal clear concept), khususnya yang menyangkut reformasi birokrasi. Taufik mengingatkan masih banyak “PR” yang harus dikerjakan dalam rangka mempercepat reformasi birokrasi. Langkah itu membutuhkan persepsi yang sama, rencana aksi yang sama, dan tujuan yang sama. “Semua komponen bangsa ini punya cita-cita yang baik dan mulia untuk bangsa dan negara,” ujarnya.

Konsep yang jelas itu, menurut Taufik, menyakup dua aspek, yaitu pembangunan mental dan peraturan perundang-undangan. Secara khusus, ia menyebut training ESQ merupakan konsep yang jelas dalam menyiapkan mental bangsa Indonesia. Taufik menekankan bahwa krisis global saat ini adalah momentum yang harus dimanfaatkan untuk mengubah paradigma dari materialisme menuju spiritualisme. “Ini tempat yang akan sangat bersejarah untuk memulai pekerjaan besar, bukan pekerjaan main-main,” katanya tentang Menara 165.

Sementara untuk urusan peraturan perundang-perundangan, Taufik mengungkapkan bahwa kantornya telah dan sedang menyiapkan seperangkat undang-undang, antara lain UU Etika Penyelenggara Negara, UU Pelayanan Publik, dan UU Kementerian Negara.

Di akhir pidatonya, Taufik menyeritakan kisah salah satu tetangganya yang bernama Sujak. Suatu hari, anak gadisnya pulang malam. Naik pitam, sang bapak yang polisi itu menghukum dengan menggunduli rambut putrinya, mengikat tubuhnya dan menyelupkannya beberapa kali ke air sumur. Sebagai ketua Rukun Tetangga, Taufik tak bisa tinggal diam. Ia datangi rumah polisi itu sambil membawa linggis. Syukurlah, tidak terjadi insiden.

Namun, peristiwa itu membuat Taufik tercenung. Bila dipikir-pikir, bangsa Indonesia memang telah menjadi bangsa Sujak. Bangsa pendendam yang ingin mempermalukan orang yang tidak disukainya, melumatkan harga diri orang, sampai benar-benar habis. “Hari ini kita bangsa Sujak, insya Allah besok kita menjadi bangsa Abdul Rahman, bangsa yang pengasih,” katanya. Yanto Musthofa (ymusthofa_165@yahoo.com), Rahma Hayati (ama_bgt@yahoo.com)

Mission & Character Building (MCB ESQ)

Pentingnya sebuah penetapan misi yang terinternalisasi di dalam setiap individu sehingga mampu mendorong sebuah keberhasilan. Kemudian, setelah menetapkan Visi – Misi, harus dilakukan pembentukan karakter sumber daya manusia yang diperlukan agar Visi – Misi tersebut dapat diwujudkan.

Presiden Direktur perusahaan Coca Cola Amerika, Robert Woodruff, pada 1923-1935, memiliki misi “Kapan saja, di mana saja, minum Coca Cola”. Artinya, dimanapun Anda berada selalu minum Coca Cola. Inilah yang memberikan kekuatan dan dorongan kepada jajaran direksi, manajemen hingga ke tingkat karyawan terendah mereka untuk merambah dunia. Contoh tersebut menunjukkan pentingnya sebuah penetapan misi yang terinternalisasi di dalam setiap individu sehingga mampu mendorong sebuah keberhasilan. Kemudian, setelah menetapkan Visi – Misi, harus dilakukan pembentukan karakter sumber daya manusia yang diperlukan agar Visi – Misi tersebut dapat diwujudkan. ESQ Mission & Character Building menjadi solusi untuk melakukan internalisasi Visi – Misi serta pembentukan karakter yang tangguh untuk mewujudkannya.

ESQ Mission & Character Building akan mengintegrasikan misi kehidupan yang seringkali terpisah: antara pribadi dengan insitusi tempat bekerja, antara dunia dengan akhirat, antara pribadi dengan pasangan dan keluarga. Selain itu, training ini juga akan membentuk karakter yang tangguh dengan cara mengubah paradigma dalam melihat sebuah masalah, bukan lagi sebagai sebuah beban melainkan kesempatan untuk menempa diri.

Manfaat Bagi Perusahaan
• Menanamkan Visi – Misi, sebagai motivasi dalam bekerja, sehingga meningkatkan semangat bekerja dan juga produktivitas
• Meningkatkan cohessiveness antar individu maupun antara Pimpinan dengan Pekerja karena memiliki kesamaan Visi – Misi

Manfaat Bagi Pribadi
• Mampu menyelaraskan Visi – Misi pribadi dengan Visi – Misi Perusahaan sehingga bekerja bukan lagi sebuah beban
• Mampu menyelaraskan Visi – Misi pribadi dengan Visi – Misi Pasangan serta Keluarga sehingga keharmonisan dalam lingkungan pribadi akan
mendorong produktivitas dalam pekerjaan
• Mampu memaknai setiap tantangan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri sehingga dapat bekerja dalam tekanan/stress


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s