Bangun Spiritualitas di Negeri Samurai


Ary Ginanjar di samping Prof Mizuno (berbaju koko), bersama panitia seminar ESQ di depan Gedung The Center for South East Asian Studies, Kyoto, Jepang
“Kedatangan Pak Ary Ginanjar Agustian ke Tokyo ini merupakan nikmat bagi kita semua,” ujar Ketua Ikatan Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (IKMMI) Tokyo, Jepang, Amir Radjab Harahap. Itu dikatakan oleh Amir, yang juga Minister Counselor KBRI di Jepang, saat membuka acara seminar pengenalan training ESQ di aula Sekolah Republik Indonesia Tokyo, di bilangan Meguro, 22 Oktober 2008. “Sebetulnya kami ingin mengundang Pak Ary sejak Ramadhan yang lalu untuk ceramah di sini,” katanya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Seusai melaksanakan training ESQ perdana di Washington DC dan Houston, Amerika Serikat, Ary Ginanjar dan rombongan memang hendak singgah dulu di Negeri Samurai. Maka, atas inisiatif dari Ny. Amy Mutia Mizuno, alumni ESQ Jakarta yang tinggal di Kyoto, acara preview ESQ pun diagendakan di sana.
Berkat kerja keras panitia yang dipimpin Ismed, sarjana elektro Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S3 di Institut Teknologi Musashi, Tokyo, sekitar 100 orang masyarakat muslim Indonesia, hadir pada acara tersebut. Tampak di antaranya Wakil Duta Besar Ronny, serta empat orang stafnya, Mirza Iskandar, Ardi Hermawan, Toferry P. Soetikno, dan Atase Militer Kolonel Neno Hamriono. ”Kalau di Indonesia, Pak Ary ini susah dicari,” kata Kepala Sekolah RI Tokyo, Sumarwoto.
Materi inti yang diberikan Ary Ginanjar adalah proses perjalanan eksistensial yang dilakukan oleh tiga nabi besar: Musa di Gunung Thursina, Ibrahim dengan empat ekor burung yang dihidupkan kembali, dan Nabi Muhammad saw di Goa Hira yang mendapatkan perintah pertama untuk ”Iqra (bacalah).” Itu adalah proses pencarian manusia yang hanya ”debu” di alam semesta. Manusia mengalami kekosongan spiritual, dan karena itu senantiasa merindukan pertemuan dengan Sang Maha Pencipta.
Seminar sekitar dua jam itu mampu menggugah perasaan dan kesadaran para hadirin, yang sebagian merupakan para mahasiswa dan sarjana Indonesia yang sedang menempuh pendidikan lanjutan tingkat master, doktor dan pascadoktor. ”Saya jadi menyadari betapa kecilnya kita di tengah alam semesta ini,” komentar Toferry. ”Seminar ini sangat menarik, mengingatkan kembali pada tujuan hidup kita sebenarnya,” kata Mirza, disepakati oleh Ardi.
Ary Ginanjar memilih Jepang setelah Amerika, karena Jepang dengan kekuatan spiritual, budaya, dan pencapaian teknologinya merupakan sebuah fenomena dalam peradaban dunia modern. ”Jepang merupakan contoh betapa tiga kecerdasan —intelektual, emosional dan spiritual— yang terpadu, bisa menjadi energi yang hebat untuk membangun bangsa,” kata Ary. ”Umat Islam, dengan nilai-nilai Ihsan, Iman, Islam dan tuntunan Al-Qur’an, seharusnya bisa lebih hebat dari Jepang.”
Jepang patut dicontoh, karena bangsa dan negeri kecil tanpa sumber daya alam itu, melalui Restorasi Meiji pada 1867, mampu memajukan diri sebagai bangsa yang modern, makmur, dan bahkan bisa memicu Perang Dunia II. Kehancuran hebat yang dideritanya pada 1945, cuma mengakhiri petualangan militernya, bukan semangatnya. Terbukti, hanya 19 tahun kemudian, mereka bisa menyiptakan kereta api tercepat di dunia, Shinkansen. Pada 1967, menjadi tuan rumah Olimpiade. Dan pada 1970, pendapatan per kapitanya menyamai GNP Prancis ditambah Inggris.
Seminar ESQ dilanjutkan ke Kyoto, di Heartpia Building di bilangan Marutamachi, pada 25 Oktober pagi. Acara yang terselenggara atas undangan Direktur The Center for South East Asian Studies (CSEAS) Prof. Dr. Kosuke Mizuno, dan didukung IKMMI wilayah Kansai itu, dihadiri sekitar 100 orang Indonesia dan Jepang.
Seperti di Tokyo, para peserta mendapatkan kesan yang mendalam. ”Ini sebenarnya yang ditunggu-tunggu di Kyoto,” komentar Lisman Surianegara, ketua panitia. ”Walaupun baru preview, kami mendapatkan sesuatu yang luarbiasa. Kami akan mengadakan training ESQ di sini pada bulan April atau Mei tahun depan,” katanya bersemangat.
”Kalau ESQ bisa diterapkan pada masyarakat Indonesia di Jepang, respek orang Jepang terhadap warga kita akan semakin tinggi,” komentar Sekjen IKMMI Kansai, Dito.
Prof. Mizuno, yang adalah suami dari Ny. Amy, menilai: ”ESQ sangat konseptual. Sangat bagus dalam penyampaiannya. Banyak yang sudah tahu, tapi tidak menghayati,” katanya. ”ESQ penting bagi bangsa Indonesia. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana semua itu bisa dipraktekkan dalam kehidupan nyata.”
Prof. Oekan S. Abdoellah dari Lembaga Riset Universitas Padadjaran yang sedang melakukan riset di CSEAS, yang juga alumni ESQ dan hadir pada seminar tersebut, menyatakan: ”Kalau nilai-nilai 165 diterapkan, kalau kita kembali kepada prinsip-prinsip agama yang kita anut, kita bisa maju dan menjadi bangsa yang besar dan disegani,” katanya.
Menurut Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Kyoto, Sofwan, ”ESQ penting bagi kami di sini, yang sehari-hari sibuk dengan penelitian ilmiah. ESQ mengingatkan kembali kepada tujuan kita sebenarnya sebagai manusia.”
Kepada masyarakat Indonesia di Jepang, khususnya di Kyoto, pemimpin ESQ Leadership Center itu mengimbau: ”Pulanglah kalian, bawa ilmu yang didapat, bangun bangsa dan negara kita.” Para hadirin menyambut ajakan itu dengan tepuk tangan riuh dan rasa haru.
Seusai menyelenggarakan kedua seminar itu, Ary mengucapkan rasa syukur. ”Alhamdulillah, berakhir sudah perjuangan kita pada tahap ini. Dimulai dari Washington DC, berakhir di Kyoto. Kita sudah memasuki dua negara besar di dunia,” katanya. Itu dikatakan Ary di hadapan anggota rombongannya, yang terdiri dari kedua orangtuanya, ”Opa” dan ”Oma” Rochim, Ketua Korwil FKA DKI Djendri Djusman beserta Ny. Amy; Sekjen FKA Internasional Muhamad Fariza beserta Ny. Zeny; alumni ESQ DKI, H. Isman dan Ny. Elmiati; dokter Adriansyah, Agus Sofyan dari ESQ Tours, teknisi training Andre, serta Yudhistira ANM Massardi dari ESQ Magazine. Lebih lanjut, Ary menegaskan: ”Sekarang, kita harus banyak mengambil pelajaran, khususnya dari Jepang. Terutama mengenai nilai-nilai 7 Budi Utama yang sejak dulu diterapkan oleh bangsa Jepang secara bersungguh-sungguh, dan menjadi dasar kecerdasan emosional mereka.”
Selain itu, Ary juga ingin mendalami semangat bushido yang menjadi jalan hidup para samurai, dan menjadi energi spiritual sejak masa Fujiwara. Energi itu bersumber dari tiga elemen budaya bangsa: Shintoisme, Confucianisme/Taoisme, dan Zen-Buddhisme. Itulah tenaga spiritual yang mendasari kecerdasan intelektual yang dihasilkan oleh Reformasi Meiji.
Bangsa Jepang membuktikan, dengan perpaduan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, mereka sukses membangun negerinya menjadi salah satu super power dunia.
Kategori: Preview • Seminar
yang berkaitan: ary, ESQ, ginanjar, jepang, Preview, Seminar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s